Ingatan, layaknya jerih dan pahit, layaknya dunia yang dirimu anggap pelik.
Sunyi merambah di sela-sela malam, memecah hati bagai pualam. Kau tak lagi ingat pukul berapa kala itu, selama apa dirimu bergeming memendam pilu. Telah berlalu sejak kerasnya debam pintu terbanting, sejak seorang pria yang kausebut Appa melontarkan kata-kata kasar yang membuat matamu memancar pedih lantas menitikkan tetes-tetes tak terelakkan.
Kemudian, apa yang dirimu ingat?
Kau ingat kapan terakhir kali kau bermimpi. Dan ingatanmu terlalu samar, serta sama sekali bukan hal yang kau anggap anugerah melainkan bencana. Sesuatu menghantuimu dalam dimensi berbeda, sebagaimana kau ketahui bahwa kini matamu tak lagi terpejam lemah, bersama sembab yang bersisa. Detak jarum jam kembali normal, kaurasa, seiring hilangnya keberadaan seseorang tanpa pretensi. Pikiranmu berkabut kala itu, tetapi tungkai memaksakan diri berlari. Lekas, tanpa memedulikan ada atau tidaknya sosok lain yang memerhatikan. Mereka–orang tuanya, mungkin, telah lebih dulu melenggang, dan bukan mereka pula yang ditujunya.
“Oppa…?”
Bisikmu lirih, sedang napas terengah.
“O-oppa…” Bicaramu tersendat, tampak bahwa rintih telah menemukan muara. Menangis, ah, kau sendiri mengakui dirimu termasuk sosok lemah yang tak tahu diri, bersikap seolah kau bisa membuatnya kembali, menariknya dan menggenggamnya supaya tidak pergi terlalu jauh dari sisi. “Pegang tanganku, jangan sampai jatuh. Kita pulang, ya?”
Tak juga menuai balasan, kendati menghancurkan teorimu bahwa semua pertanyaan diciptakan berpasangan dengan jawabannya.
—
Sesuatu yang kauanggap awal, barangkali adalah akhir. Ragamu letih, seumpama pigura di ruang tengah yang tak pernah lagi tersentuh oleh tuannya, majalah-majalah berserakan, serta lampu duduk kaujadikan satu-satunya sumber penerangan. Jera hatimu mendengar erangan tipis yang meluncur tatkala laki-laki itu menjatuhkan diri di atas sebuah sofa berlapis beludru. Sebuah awal yang kauharap mampu memperbaiki kekeliruan silam, yang inginnya kaupastikan benar jalannya, namun sirna begitu saja. Kelopak matamu menutup, kesadaranmu tenggelam dalam lelap, dan kuasamu menginderai telah berhenti sesaat.
Akhir yang kaupikir sebuah awal.
—
Jerit itu sama pilunya.
Lalu, apa hadiahnya? Kesunyian yang sejati dan tak pernah kaudapatkan sebelumnya, serta kapanpun untuk kedua kalinya. Dirimu hilang arah, melepas kendali, tak lagi memiliki pijakan berdasar yang biasa membuatmu terlihat lebih tegar. Suka bersama harap membumbung tinggi, tanpa mampu kaugapai. Separuh dari bahagiamu dicungkil paksa, dibawa pergi. Hilang bersama asa.
Bersama jantung tanpa detak, nadi tanpa denyut, raga tanpa jiwa,
… yang membawa serta kepergiannya.
‘Jahat’,
Dan sesalmu jadi satu-satunya pelipur tangis.