Hari itu, di mana seluruh jarimu habis untuk menghitung waktu yang tersisa. Sepuluh. Satu minggu lebih tiga hari menuju datangnya Natal. Namun bukan itu poinnya, hari ini adalah hari ketika mereka membuatkan kue berbentuk persegi, yang atasnya ditaburi rumput laut, serta potongan agar-agar hijau di sekelilingnya. Ada langgam yang terlisan, merdu dan riuh. Suasana yang tak mungkin kaudapat setiap waktu. Pesta, katakanlah, satu per satu mengucapkan ‘selamat’ padamu. Senang-senang semalam suntuk, sekali waktu saja.
Dan sekali saja, menghiraukan renggangnya hubungan kedua orang laki-laki terdekatmu.
…
Menunggu penghujung yang tak tahu kapan terbitnya, hanya akan membuatmu mati jengah di dalam ruangan. Maka di sinilah dirimu—bersama sosok yang sama pada kunjungan sebelumnya—terduduk nyaman di mulut dermaga. Tungkaimu mengayun, acap kali membuat air yang merendamnya beriak dalam gelap. Sebuah botol bekas minuman anggur tergenggam erat, dan selembar kertas putih baru saja dikeluarkan dari dalam saku.
“Kamu yakin tidak mau coba?” Tanyamu, sembari menolehkan kepala. Senyummu samar, namun penuh arti. Berharap desau angin laut membuatnya berubah pikiran.
“Tidak.” Pupus. “Kau saja.”
Mencelos.
“Hu, baiklah.”
Barangkali sesal itu hadir, tapi kau buru-buru menepisnya. Barangkali benar apa kata Pemuda Stark perihal tindakan konyolmu, maka terima saja. Hanya dengan memanfaatkan lampu-lampu temaram di tepian dermaga, kau mulai menulisi kertas tersebut. “Hei, jangan lihat ya!” Kertas tersebut ditarik menjauh, ketika gerak-geriknya tertangkap basah oleh sudut matamu. Dengus yang terdengar, nyatanya membuatmu terkekeh. Win.
Usai menulis, kau mulai menggulung kertas tersebut. Tak lebih besar dari diameter mulut botol, lalu dimasukkannya ke dalam benda tersebut. Tutupnya kembali menyumpal rapat-rapat, memastikannya tak mampu ditembus oleh arus ombak sekalipun. Pesannya akan terlindung, dan memang seharusnya demikian. “Jadi, mengajakku ke sini hanya untuk menyaksikanmu melakukan ini semua?” Suara berat itu kembali menggetarkan timpaninya. Sontak, kau mengangguk tanpa paras berdosa. “Dan, psss.. Ini permohonan rahasia.” Sambungmu, sembari menyeringai jenaka. Ulang tahunmu yang kedelapanbelas—ketimbang menunggu kejatuhan bintang, kau lebih memilih memasrahkan harapanmu pada hamparan laut yang berada tepat di depan mata.
Pelan-pelan, tanganmu terjulur. Genggaman pada botol mengendur, lantas membiarkan arus laut membawanya pergi. Melepaskannya, tanpa tahu akan dibawa ke mana setelah ini.
(“I’m sorry, I choose to love in silence.
But, forever could even start today, no?
And sincerely, Elise loves Lore.”)
Adalah hal yang tak pernah kau lisankan secara lugas di hadapannya.
…
“Nah. Sudah, kan?” Eh?
…jangan.
“T, tunggu.” Ucapmu, lirih. Sebisa mungkin menghentikannya, mencegahnya untuk bangkit. Jemarimu menggenggam pergelangannya tergesa-gesa. Kautahu, semua ini hanya akan menambah kecanggungan yang sudah ada sebelumnya. “Sebentar saja, oke?” Pintamu dengan nada memohon. Meski berada di posisi Lore bukan sesuatu yang mudah, mengingat Leith belum tentu mengikhlaskan segala hal yang terlanjur terjadi. Tindakanmu—bahkan keduanya, menyusup keluar rumah seperti beberapa saat lalu, tampak terlalu beresiko. “Aku yang tanggung. Setelah matahari terbit, kita pulang. Boleh?” Sebab kau tak tahan dengan jarak yang mulai terentang di antara kalian berdua.
Maka, keduanya bertahan pada posisi serupa. Kepalamu bersandar pada bahu si pemuda. Ini bukan pertama kalinya, membisu satu sama lain. Hanya embusan napas yang terdengar memecah keheningan, ombak menghantam karang, dan semakin larut, semakin membuatmu merasa terjaga. Cicit burung mulai kentara, suara-suara lain mulai berdatangan dari balik punggungmu, dan pada jarak pandang terjauh, sekawanan kapal tampak samar-samar muncul menghampiri. “Lihat!” Kau tersentak, menegakkan tubuh, lalu bangkit berdiri begitu saja. Pagi menjelang, tatkala fajar mulai tampak di ufuk timur. Naik perlahan, menjauh dari peraduan—batas antara langit dengan perairan.
“Selamat pagi! Tolong sampaikan salamku pada Loreius Stark, ya.” Teriakmu, sembari menghadap ke arah surya yang mulai tampak pendarnya. Secerah aprikot matang, begitu kau menyebutnya. Puas. Di sisi lain, kautahu, bahwa sosok yang bersangkutan mungkin sedang memandangmu dengan sorot keheranan.
“Dia akan tetap berada di sana, sehingga membuatku yakin salamku akan selalu tersampaikan.” Lagi, mengoceh tanpa disuruh. Kini, kau mulai berbalik, merasa sedikit khawatir akan raut wajah sendiri yang mungkin sudah dirambati semburat merah yang entah dari mana asalnya. “Di mana pun aku atau kau berada. Hari ini, esok, lusa, dan hari-hari berikutnya—“ Begitulah caramu, mengucapkan selamat pagi pada sosok terkasihmu.
“P, pulang. Yuk?”
—maybe, just maybe, we could stay together.